Kita Tidak Penting. Tidak Pernah Penting

(gambar saya comot dari IMDB)

“Enggak ada yang peduli sama diri kita kecuali diri kita sendiri. Ini yang gue percaya dari zaman dulu. Kepedulian orang lain terhadap kita adalah kepedulian yang sekadarnya. Kita enggak bisa nuntut lebih. Toh ini hidup kita. Bukan hidup orang lain.”

Begitulah bunyi pesan Whatsapp saya kepada seorang teman yang sedang mendekam di dalam penjara.

Sebelum saya mengirim pesan tersebut, teman saya selalu mengeluh tentang teman-temannya yang menurutnya tidak ada lagi yang peduli terhadapnya selama dirinya mendekam di dalam penjara. Tidak ada lagi yang menghubunginya. Tidak ada lagi yang memberikan perhatian kepadanya. Intinya, dia merasa semua orang telah melupakannya.

Mendengar semua keluhannya, membuat saya kasihan terhadapnya. Apakah dia tidak tahu bahwa sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar peduli terhadap nasib orang lain? Kalaupun tampak peduli, itu adalah kepedulian yang sekadarnya. Tidak sepenuhnya. Tidak seutuhnya. Setiap orang hanya peduli terhadap hidup mereka sendiri. Ini adalah kenyataan yang sepertinya tidak disadari oleh banyak orang.

Itu sebabnya, karena saya kasihan, saya pun mengirim pesan tersebut kepadanya. Dengan harapan agar teman saya itu menyadari kenyataan pahit tersebut.

Tidak berapa lama kemudian, teman saya itu membalas pesan Whatsapp saya:

“Gue berpikiran kalo gue bantu orang, orang pasti bantu gue. Ternyata enggak gitu. Kausalitas itu enggak selalu berbanding lurus.”

Hmm. Saya tidak membalas pesan tersebut. Sepertinya teman saya itu sudah mendapatkan pelajaran baru dalam hidupnya.

Setiap orang selalu mendahulukan kepentingan hidupnya ketimbang kepentingan hidup orang lain.

Saya punya cerita lain lagi mengenai hal ini.

Beberapa waktu lalu, saya terjatuh dari perahu karet saat sedang rafting. Saya tidak jatuh sendirian, tetapi bersama seorang teman yang lain.

Karena saya punya pengalaman berenang di sungai sejak kecil, saya tidak panik. Saat itu saya berniat akan berenang ke tepian. Namun, niat saya itu gagal. Saya merasa tiba-tiba tubuh saya berat dan sulit digerakkan. Ternyata, teman saya yang ikut terjatuh itu menarik tubuh saya. Meraih pundak saya dan menekan kepala saya sampai tenggelam. Rupanya dia tidak bisa berenang.

Pada saat itulah saya melihat dengan jelas wajah panik teman saya itu. Wajah yang berusaha ingin menyelamatkan diri, tanpa peduli betapa saya akan mati tenggelam.

Mengapa dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri dengan cara mengorbankan diri saya? Saya bertanya seperti itu sambil terus mencoba menahan napas karena kepala saya selalu berada di dalam air. Saya pasrah. Ternyata saya mati dengan cara yang tidak keren sama sekali. Begitulah yang ada di dalam benak saya saat itu. Namun, tentu saja saya tidak jadi mati. Alhamdulillah.

Begitulah.

Manusia adalah makhluk individualis nan egois. Sejak masih berbentuk sperma, kita saling berebut dengan jutaan sperma lainnya untuk mencapai sel telur. Tidak ada sperma yang mempersilakan sperma yang lain untuk masuk lebih dulu. Tidak ada.

Tidak ada seorang altruis di antara kita. Kalaupun ada, sekali lagi, tidak betul-betul altruis. Mereka hanyalah altruis sekadarnya. Tidak sepenuhnya. Tidak seutuhnya.

Jadi, apakah kita masih berharap bahwa masih ada orang lain yang peduli terhadap hidup kita? Peduli terhadap kesusahan kita? Peduli terhadap penderitaan kita? Peduli terhadap segala kesialan yang terjadi pada diri kita?

Sebaiknya jangan.

Kita tidak penting. Tidak pernah penting. Sama sekali.[]

--

--

editor buku anak | cerpenis | penulis fabel dan cerita anak | manusia paruh waktu | email: noorhdee@gmail.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Rex Tukangtidur

Rex Tukangtidur

editor buku anak | cerpenis | penulis fabel dan cerita anak | manusia paruh waktu | email: noorhdee@gmail.com